MANFAATAN MEDIA DALAM MENUNJANG KEMAHIRAN MENULIS BAHASA ARAB SISWA KELAS MADRASAH IBTIDAIYAH

PENDAHULUAN

Pengajaran bahasa Arab untuk Madrasah Ibtidaiyah sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum tahun 1994 adalah suatu proses kegiatan yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan dan membina kemampuan berbahasa Arab fusha baik aktif maupun pasif serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa itu. Kemampuan berbahasa Arab dan sikap terhadap bahasa itu adalah sangat penting dalam rangka memahami ajaran Islam dari sumber aslinya baik Alqur’an dan Hadits maupun kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam.

Dalam kurikulum di atas dipaparkan bahwa bahasa Arab yang diajarkan di Madrasah Ibtidiyah berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan di samping sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu pelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari mata pelajaran Pendidikan Agama keseluruhan. Walaupun demikian, pengajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaliyah harus tetap berpedoman kepada prinsip-prinsip pengajaran bahasa asing pada umumnya.

Secara implisit disebutkan bahwa tujuan pengajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah adalah agar murid dapat menguasai secara aktif perbendaharaan kata Arab fusha sebanyak 300 kata dan ungkapan dalam bentuk dan pola kalimat dasar dengan demikian murid diharapkan dapat mengadakan komunikasi sederhana dalam bahasa Arab dan dapat memahami bacaan-bacan sederhana dalam teks itu (Depag RI, 1994).

Dalam pengajaran bahasa dikenal ada empat keterampilan/kemahiran berbahasa yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa ini hendaknya diajarkan kepada siswa dengan cara yang bermacam-macam, bervariasi agar siswa tidak jenuh dan monoton terhadap apa yang mereka terima dari guru. Menurut Tarigan (1986: 38) syarat minimal yang harus dipenuhi oleh guru keterampilan berbahasa ialah penguasaan materi tentang keterampilan berbahasa serta dapat mengajarkannya kepada siswa.

Di samping kuat dalam penguasaan materi pelajaran, guru juga harus kaya pengalaman dengan beraneka-ragam, metode pengajaran atau teknik pengajaran. Guru keterampilan berbahasa harus mahir dan kaya pengalaman dengan teknik pengajaran keterampilan berbahasa.

Kemahiran menulis dalam bahasa Arab (kitabah) membutuhkan banyak latihan, mulai dari menulis huruf, menyambung huruf dan mengarang. Menurut Lubis (2002: 2) mengajarkan bahasa Arab anak-anak usia SD/MI diperlukan upaya yang sangat besar dari seorang guru serta dibutuhkan pula variasi, cara dan media pengajaran. Kendala yang dihadapi perlu diatasi dengan seksama mengingat tingkat pemahaman anak yang berbeda. Di usia ini para siswa masih membutuhkan pengenalan tentang apa itu membaca dan kegunaannya, pengenalan terhadap kosa kata baru dan membiasakan diri untuk mengutarakan keinginan. Untuk itu, guru dan tenaga pendidik di lingkungan sekolah mengupayakan kondisi yang kondusif untuk memperkenalkan dan menggunakan bahasa asing di kelas dan sekolah.

Dalam mencapai tujuan tersebut, Madrasah Ibtidaiyah menghadapi permasalahan-permasalah serius dan kompleks. Diantara permasalahan itu adalah faktor guru yang tidak profesional dan materi yang kurang memadai. Dari faktor guru, temuan penelitian Masyruhah (2001) menunjukkan tidak ada satupun guru bahasa Arab di MI se-kecamatan Sugio kabupaten Lamongan yang berlatar belakang pendidikan guru bahasa Arab. Sedangkan dari faktor materi, kajian Asrori (2001) terhadap empat macam buku teks yang diberlakukan menunjukkan bahwa keempatnya mengalami kelemahan-kelemahan yang serius. Kelemahan-kelemahan itu meliputi (1) isi tidak sesuai dengan kurikulum, (2) kalimat tidak kontekstual, (3) over kaidah, (4) sekedar memenuhi pola struktur, (5) tidak bergambar, (6) mengenalkan istilah gramatika, (7) menggunakan penerjemahan sebagai model.

Melihat kenyataan di atas, perlu kiranya seorang guru untuk menggunakan media pengajaran sebagai alat untuk meminimalisir kesulitan yang dihadapi oleh murid. Perkembangan yang begitu pesat dan semakin modern makin mempermudah bagi seorang pendidik untuk memanfaatkan berbagai macam medi yang ada.

MEDIA PENGAJARAN DAN MACAMNYA

Banyak sekali pengertian media pembelajaran yang diungkapkan oleh para tokoh, tapi menurut terminology kata media berasal daribahasa latin “medium” yang artinya perantara, sedangkan dalam bahasa arab media berasal dari kata wasaaila artinya pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.

Adapun penjabaran tokoh-tokoh tentang pengertian media pembelajaran antara lain:

1. Menurut Berlach dan Ely (1971) mengemukakan bahwa media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

2. Menurut Heinich, dkk 1985 Media pembelajaran adalah media-media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan pembelajaran atau mengandung maksud-maksud pembelajaran.

3. Media Martin dan Briggs 1986 mengemukakan bahwa media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan si-belajar. Hal ini bisa berupa perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat keras.

4. Menurut H Malik 1994 media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan si belajar dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Dari pengertian di atas, dapat diambil kesempatan ciri-ciri media pembelajaran diantaranya:

1. Penggunaanya dikhususkan atau dialokasikan pada kepentingannya,

2. Merupakan alat untuk menjelaskan apa yang ada dibuku pelajaran baik berupa kata-kata simbol atau bahkan angka-angka,

3. Media pembelajaran bukan hasil kesenian,

4. Pemanfaatan media pembelajaran tidak sebatas pada suatu keilmuwan tertentu tapi digunakan pada seluruh keilmuwan.

Macam-macam media yang digunakan. Secara umum media pengajaran bahasa dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu media pandang (visual aids), media dengar (audio aids) dan media dengar-pandang (audio-visual aids). Media pandang dapat berupa benda-benda alamiah, orang dan kejadian; tiruan benda-benda alamiah, orang dan kejadian; dan gambar benda-benda alamiah, orang dan kejadian (Effendi, 1984).

Benda-benda alamiah yang dapat dihadirkan dengan mudah ke sekolah atau dapat ditunjuk langsung merupakan media pandang yang cukup efektif untuk digunakan, misalnya alat-alat sekolah, alat olah raga, dan benda-benda disekitar sekolah. Jika benda alamiah tidak mungkin dihadirkan, maka dapat diganti dengan tiruannya yang sekarang ini cukup mudah didapatkan, misalnya buah-buahan dari plastik, mobil-mobilan, perkakas rumah tangga, dan sebagainya. Jika tiruan benda alamiah itu pun tidak ada, maka dapat diganti dengan gambar, baik gambar sederhana maupun gambar hasil peralatan mutakhir. Media pandang lainnya adalah kartu dengan segala bentuknya, papan flanel, papan magnet, papan saku, dan lain sebagainya.

Dalam konteks pembelajaran ALA, benda-benda tiruan dan gambar merupakan media yang cukup efektif untuk digunakan, terutama untuk pengenalan mufradat dan pola kalimat. Benda-benda dan gambar itu dapat diletakkan di sudut-sudut ruangan atau ditempel di dinding sebagai pajanan. Jika anak telah dapat membaca, di bawah setiap gambar atau barang tiruan itu dapat disertakan namanya dengan bahasa Arab.

Media dengar yang dapat digunakan untukr pengajaran bahasa antara lain radio, tape rekorder, dan laboratorium bahasa (yang sederhana). Untuk pembelajaran ALA, radio tampaknya kurang cocok, karena pemancar radio yang siarannya berbahasa Arab umumnya radio dari negara Timur Tengah yang program dan isinya tidak cocok untuk dikonsumsi anak-anak Indonesia. Tape recorder untuk media dengar merupakan pilihan yang cukup tepat untuk pengajaran bahasa, termasuk ALA, karena dengan alat ini dapat diputar kaset-kaset rekaman sesuai yang kita inginkan, seperti lagu-lagu berbahasa Arab untuk anak. Namun, kendala dari pemakaian tape recorder adalah minimnya kaset-kaset rekaman siap pakai yang dirancang khusus untuk pengajaran ALA. Kendala ini sekaligus merupakan tantangan bagi para pakar dan praktisi pengajaran bahasa Arab.

Penggunaan laboratorium bahasa sebagai alat bantu pengajaran bahasa telah diakui efektifitasnya oleh para pakar pengajaran bahasa. Akan tetapi, untuk sekolah¬-sekolah di Indonesia pada umumnya, terutama di wilayah kabupaten, peralatan ini sering kali hanya merupakan angan-angan yang sulit dicapai karena harganya yang relatif tinggi.

Media pengajaran bahasa yang paling lengkap adalah media dengar pandang, karena dengan media ini terjadi proses saling membantu antara indra dengar dan indra pandang. Yang termasuk jenis media ini adalah televisi, VCD, komputer dan Laboratorium Bahasa yang mutakhir. Dengan televisi yang menggunakan parabola dapat diakses siaran berbahasa Arab dari berbagai negara, seperti Arab Saudi, Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Pakistan. Siaran itu kemudian dapat direkam dengan menggunakan CD Writer sehinga dapat diputar berulang kali sebagai alat peraga.

VCD juga merupakan media pengajaran bahasa yang cukup efektif digunakan. Alat ini mirip dengan tape recorder hanya lebih lengkap. Tape recorder hanya didengar, sementara VCD didengar dan dilihat. Saat ini telah banyak program-program pengajaran bahasa Arab yang dikemas dalam bentuk CD, namun untuk mengoperasikannya tidak cukup dengan VCD tetapi dengan komputer yang dilengkapi dengan multimedia. Dalam konteks pengajaran ALA, telah banyak program pengajaran ALA yang dikemas dalam bentuk CD, misalnya: Alif-Ba-Ta, Al-Qamus al-mushowwar li As-Shigar, Bustan Ar-Raudloh, Juha 1-2, Jism al-Insan, Hadiqah al-Arqam, Masrahiyah al-Huruf al-Arabiyah, Ta’lim al-Lughah al-Arabiyah, ‘Alam al-Tajarub li as-Sigar, Jazirah al-Barka:n, dan Mausuah al-Musabaqah wa al-Algha:z serta masih banyak lagi (Kholisin, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Asrori, Imam. 2001. Konsepsi Kurikulum Tentang Pengajaran BA di MI dan Kelemahan Pengembangannya Dalam Buku Teks. Makalah disajikan pada PINBA II di UGM Yogyakarta, 20-21 Juli 2001.

Depag. 1993. Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Mata Pelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Dirjen Binbaga Islam.

Effendy, A. Fuad. 1984.

Kholisin, 2002. Makalah disajikan pada Lokakarya Strategi Pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak di Jurusan Sastra Arab FS UM, 12-13 Juli.

Lubis, Amany. 2002. Pengajaran Bahasa Arab untuk anak-anak (Tadris Al-Arabiyah Lil-Atfal). Makalah disajikan pada Lokakarya Strategi Pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak di Jurusan Sastra Arab FS UM, 12-13 Juli.

Masyruhah, A. 2002. Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah Se Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan. Skripsi tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Saya Mohammad Ahsanuddin, S.Pd setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan dig

EDIA PEMBELAJARAN
Sunday, 25 November 2007
MEDIA PEMBELAJARAN
PENGGUNAAN MEDIA
Belajar-mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan belajar-mengajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan.

MEDIA PEMBELAJARAN
PENGGUNAAN MEDIA
Belajar-mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan belajar-mengajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan.

MEDIA PEMBELAJARAN

October 22nd, 2007

PENGGUNAAN MEDIA

Jenis dan Fungsi Sumber Belajar

1.  Pendahuluan

Belajar-mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan belajar-mengajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan.

Sumber belajar dalam pengertian sempit adalah, misalnya: buku-buku atau bahan-bahan cetak lainnya. Pengertian itu masih banyak dipakai dewasa ini oleh sebagian besar guru. Misalnya dalam program pengajaran yang biasa disusun oleh para guru terdapat komponen sumber belajar, dan pada ummnya akan diisi dengan buku teks atau buku wajib yang dianjurkan. Pengertian yang lebih luas tentang sumber belajar diberikan oleh Edgar Dale yang menyatakan bahwa pengalaman itu sumber belajar. Berikut kerucut pengalaman (cone of experience).

Sumber belajar dalam pengertian tersebut menjadi sangat luas maknanya, seluas hidup itu sendiri, karena segala sesuatu yang dialami dianggap sebagai sumber belajar sepanjang hal itu membawa pengalaman yang menyebabkan belajar. Belajar pada hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelumnya. Pengalaman yang dapat memberikan sumber belajar diklasifikasikan menurut jenjang tertentu berbentuk kerucut pengalaman. Penjenjangan jenis-jenis pengalaman tersebut disusun dari yang kongkrit sampai yang abstrak.Dalam pengembangan sumber belajar itu terdiri dari dua macam yaitu: Pertama, sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk membantu belajar-mengajar (learning resources by design) misalnya buku, brosur, film, video, tape, slides, OHP, dll. Kedua, sumber belajar yang dimanfaatkan guna memberi kemudahan kepada seseorang dalam belajar berupa segala macam sumber yang ada di sekeliling kita. Sumber belajar tersebut tidak dirancang untuk kepentingan suatu kegiatan pembelajaran (learning resources by utilization). Misalnya pasar, toko, museum, tokoh masyarakat, pakar, dll.

2.       Klasifikasi/Jenis Sumber Belajar

Pengklasifikasian sumber belajar menurut Edgar Dale (1954) terinci seperti dalam kerucut pengalaman seperti telah dikemukakan di atas. Sedangkan menurut Wallington (1970) bahwa peran utama sumber belajar adalah membawa atau menyalurkan stimulus dan informasi kepada siswa. Dengan demikian maka untuk mempermudah klasifikasi sumber belajar itu kita dapat mengajukan pertanyaan seperti “apa”, siapa”,”di mana”, dan “bagaimana”. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan Wallington tersebut, kemudian dapat disusun klasifikasi sumber belajar sebagai berikut

Klasifikasi Pertanyaan Jenis Sumber Belajar1.      Apa yang disajikan ? Pesan, berita, informasi2.      Siapa yang menyajikan? Manusia, materi, pelajaran, alat3.      Bagaimana menyajikannya? Teknik, metode, prosedur4.      Di mana disajikan? Di tempat yang diatur   Klasifikasi lain yang biasa dilakukan terhadap sumber belajar adalah sebagai berikut :a.      Sumber belajar tercetak meliputi: buku, majalah, brosur, koran, kamus, ensiklopedia.b.      Sumber belajar non-cetak meliputi: film, slide, video, model, transparan, obyek, dll.c.      Sumber belajar yang berbentuk fasilitas meliputi: perpustakaan, ruang belajar, studio, lapangan olah raga, dll.d.      Sumber belajar berupa kegiatan meliputi: wawancara, kerja kelompok, observasi, simulasi, permainan, dll.e.      Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat meliputi: taman, terminal, pasar, toko, museum, pabrik, dll.

3.       Komponen dan Faktor Sumber Belajar

Sumber belajar dapat dipandang sebagai suatu sistem karena merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat komponen-komponen dan faktor-faktor yang berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lainnya yang selalu dapat dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen atau subsistem-subsistem.

a.     Komponen-komponen Sumber Belajar.Tujuan, misi, atau fungsi sumber belajar. Setiap sumber belajar mempunyai tujuan dan misi yang akan dicapai. Tujuan sangat dipengaruhi oleh sifat dan bentuk-bentuk sumber belajar itu sendiri. Bentuk, format, atau keadaan fisik sumber belajar. Wujud sumber belajar secara fisik satu sama lainnya berbeda-beda. Misalnya pusat perbelanjaan berbeda dengan kantor bank sekalipun keduanya memberikan inormasi tentang perdagangan. Demikian pula bila mempelajari dokumentasi, tentu berbeda dengan mengadakan wawancara dengan seseorang. Pesan yang dibawa sumber belajar. Setiap sumber belajarselalu membawa pesan yang dapat dimanfaatkan atau dipelajari oleh pemakainya. Komponen pesan merupakan informasi yang penting. Oleh sebab itu para pemakai sumber belajar hendaknya memperhatikan bagaimana isi pesan disimak. Tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakai sumber belajar. Tingkat kompleksitas penggunaan sumber belajar berkaitan dengan keadaan fisik dan pesan sumber belajar. Sejauh mana kompleksitasnya perlu diketahui guna menentukan apakah sumber belajar itu masih dapat dipergunakan mengigat waktu dan biaya yang terbatas. b.     Faktor-faktor yang berpengaruh kepada Sumber BelajarPerkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini sangat mempengaruhi sumber belajar yang digunakan. Pengaruh teknologi bukan hanya terhadap bentuk dan jenis sumber belajar, melainkan juga terhadap komponen-komponen sumber belajar. Nilai-nilai budaya setempat. Sering ditemukan bhan yang diperlukan sebagai sumber belajar dipengaruhi oleh faktor bdaya setempat, misalnya nilai-nilai budaya yang dipegang teguh masyarakat, terutama pada jenis sumber belajar seperti tempat bekas peninggalan upacara ritual pada masa lampau yang masih dianggap tabu oleh masyarakat setempat untuk dikujungi akan sulit dipelajari atau diteliti sebagai sumber belajar. Keadaan ekonomi pada umumnya. Sumber belajar juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, baik secara mikro maupun secara makro dalam hal upaya pengadaan, jenis atau macam, dan upaya penyebarannya kepada pemakai. Keadaan pemakai. Pemakai sumber belajar jelas memegang peranan penting karena pemakailah yang memanfaatkanya sehingga sifat pemakai perlu diketahui, misalnya berapa banyak pemakai sumber belajar itu, bagaimana latar belakang dan pengalaman pemakai, bagaimana motivasi pemakai, apa tujuan pemakai memanfaatkan sumber belajar itu.

4.       Memilih sumber belajar

Memilih sumber belajar harus didasarkan atas kriteria tertentu yang secara umum terdiri dari dua macam ukuran, yaitu kriteria umum dan kriteria berdasarkan tujuan yag hendak dicapai.

a.      Kriteria Umum

-         Ekonomis. Dalam pengertian murah. Ekonomis tidak berarti harganya selalu harus rendah, bisa saja pengadaan sumber belajar itu cukup tinggi, tetapi pemanfaatannya dalam jangka panjang terhitung murah.

-         Praktis dan sederhana. Artinya tidak memerlukan pelayanan serta pengadaan sampingan yang sulit dan langka, atau tidak memerlukan pelayanan yang menggunakan keterampilan khusus yang rumit.

-         Mudah diperoleh. Dalam arti sumber belajar itu dekat, tidak perlu diadakan atau dibeli di toko atau pabrik. -         Bersifat fleksibel. Artinya bisa dimanfaatkan untuk pelbagai tujuan instruksional dan tidak dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya kemajuan teknologi, nilai budaya, dan keinginan berbagai pemakai sumber belajar itu sendiri. -         Komponen-komponennya sesuai dengan tujuan, merupakan kriteria yang penting. Sering terjadi sumber belajar mempunyai tujuan yang sesuai, pesan yang dibawa juga cocok, tetrapi keadaan fisik tidak terjangkau karena di luar kemampuan disebabkan oleh biaya yang tinggi dan banyak memakan waktu.      b.      Fungsi Sumber Belajar Berdasarkan TujuanSumber belajar guna memotivasi, terutama berguna untuk siswa yang lebih rendah tingkatannya, dimaksudkan untuk memotivasi mereka terhadap mata pelajaran yang diberikan. Misalnya dengan darmawisata, gambar-gambar yang menarik, cerita yang baik, dll, yang tujuannya untuk membangkitkan minat, mendorong partisipasi, merangsang pertanyaan-pertanyaan, memperjelas masalah, dll.Sumber belajar untuk tujuan pengajaran, yaitu untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Kriteria ini paling umum dipakai dengan maksud untuk memperluas bahan pelajaran, melengkapi pelbagai kekurangan bahan, sebagai kerangka mengajar yang sistematis.Sumber belajar untuk penelitian, merupakan bentuk yang dapat diobservasi, dianalisis, diatat secara teliti, dan sebagainya. Jenis sumber belajar ini diperoleh seara langsung dari masyarakat atau lingkungan. Sumber belajar yang dirancang dan membantunya melalui rekaman audio maupun video.Sumber belajar untuk memecahkan masalah. Beberapa ciri yang harus diperhatikan yaitu:

(1)         Sebelum mulai perlu diketahui: Apakah masalah yang dihadapi sudah cukup jelas sehingga bisa diperoleh sumber belajar yang tepat? Apakah sumber belajar bisa disediakan? Di mana bisa diperolehnya?;

(2)         Mempertimbangkan bukti-bukti: Apakah sumber belajar masih aktual? Bagaimana jenisnya? Adakah sumber lain yang dapat dipakai?;

(3)         Membuat kesimpulan: Benarkah kesimpulan yang diambil atas dasar sumber belajar itu?Sumber belajar untuk presentasi. Ini hampir sama dengan yang dipergunakan dalam kegiatan instruksional. Di sini lebih ditekankan sumber sebagai alat, metode, atau strategi penyampaian pesan. Fungsi sumber belajar ini bukan sebagai penyampai pesan atau informasi ataupun data, melainkan sebagai strategi, teknik, atau metode.

  • Media Pendidikan

1. Pendahuluan

Salah satu pengertian dari media pendidikan yang cukup populer adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh sebab itu media pendidikan adalah suatu bagian yang integral dari proses pendidikan. Dan karena itu menjadi suatu bidang yang harus dikuasai oleh setiap guru yang profesional. Karena bidang ini telah berkembang sedemikian rupa berkat kemajuan ilmu dan teknologi dan perubahan sikap masyarakat, maka bidang ini telah ditafsirkan secara lebih luas dan mempunyai fungsi yang lebih luas pula serta memiliki nilai yang sangat penting dalam dunia pendidian di sekolah.

Pekerjaan guru adalah pekerjaan profesional. Karena itu diperlukan kemampuan dan kewenangan. Kemampuan itu dapat dilihat pada kesanggupannya enjalankan peranannya sebagai guru: pengajar, pembimbing, administrator, dan sebagai pembina ilmu. Salah satu segi kemampuan ini, adalah sejauh manakah ia menguasai metodologi media pendidikan di sekolah untuk kepentingan anak didiknya, sehingga memungkinkan perkembangan mereka secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan.

2. Pola Media Pendidikan

Dari pengertian media pendidikan di atas kita menafsirkan media pendidikan dari sudut pandang yang luas, dalam arti tidak hanya terbatas pada alat-alat audio/visual yang dapat dilihat dan didengar, melainkan sampai pada kondisi di mana para siswa dapat melakukan sendiri. Dalam pola demikian itu, maka tercakup pula di dalamnya pribadi dan tingkah laku guru. Secara menyeluruh pola media pendidikan itu terdiri dari:

a.     Bahan-bahan cetakan atau bacaan (suplementary materials), berupa bahan bacan seperti: buku, koran, komik, majalah, bulletin, folder, periodikal, pamplet, dan lain-lain. Bahan-bahan ini lebih mengutamakan kegiatan membaca atau penggunaan simbol-simbol kata dan visual.b.     Alat-alat audio-visual.

Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini, terdiri dari:

1)     Media tanpa proyeksi, seperti: papan tulis, papan tempel, papan planel, bagan, diagram, grafis, poster, kartoon, gambar, dan lain-lain.

2)     Media pendidikan tiga dimensi. Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini, terdiri dari: model, benda asli, contoh/specimen, benda tiruan/mock-ups, diorama, boneka, topeng, peta, globe, pameran, museum sekolah, dan lain-lain.

3)     Media pendidikan yang mengunakan teknik atau masinal. Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini, meliputi antara lain: slide dan film strip, OHP, film, rekaman radio, televisi, laboratorium, perkakas oto-instruktif, ruang kelas otomatis, sistem interkomuniasi, dan komputer.

c.      Sumber-sumber masyarakat.

Berupa obyek-obyek, peninggalan sejarah, dokumentasi, bahan-bahan, masalah-masalah, dan sebagainya dari berbagai bidang, yang meliputi: daerah, penduduk, sejarah, jenis-jenis kehidupan, mata pencaharian, industri, perbankan, perdagangan, pemerintahan, kebudayaan, politik, dan lain-lain. Untuk mempelajari hal-hal tersebut diperlukan berbagai metode, yakni: karyawisata, manusia sumber, survay, berkemah, pengabdian sosial, kerja pengalaman, dan lain-lain.

d.     Kumpulan benda-benda (material collections).

Berupa benda-benda atau barang-barang yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, seperti: potongan kaca, potongan sendok, daun, bibit, bahan kimia, darah, dan lain-lain.

e.     Contoh-contoh kelakuan yang dicontohkan oleh guru.

Meliputi semua contoh kelakuan yang ditunjukkan oleh guru sewaktu mengajar, misalnya dengan tangan, dengan kaki, gerakan badan, mimik, dan lain-lain. Keperaghaan yang tergolong ke dalam kategori ini tak mungkin disebutkan satu persatu, oleh karena sangat banyak macamnya dan sangat tergantung kepada kreasi dan inisiatif pribadi guru sendiri. Tetapi pada pokoknya jenis media ini hanya dapat dilihjat, didengar dan ditiru oleh siswa.


3.      Disain Pesan

Disain pesan adalah sistematika bagaimana kita akan mengolah pesan-pesan kita menjadi program media yang efektif. Di dalam sistematika ini terdapat langkah-langkah pengembangan yang dapat kita jadikan pedoman sebagai alur untuk menentukan langkah-langkah yang akan kita lakukan. Beberapa alasan untuk menjawab mengapa desain itu kita perlukan:

-   Kemungkinan menyimpang dari tujuan yang ditentukan diperkecil dengan maksud validitasnya dipertinggi karena relevansi dengan tujuannya terjamin;

-  Keandalannya dapat terjaga karena konsisten dengan tujuannya;

-  Kemungkinan ada bagian-bagian penting yang terlewati terjaga karena dikerjakan secara sistematis;

-  Kelemahan dan kekurangan mudah dideteksi dan direvisi karena pola penelusurannya jelas.

4.      Visualisasi Ide

Proses visualisasi merupakan salah satu kegiatan dari pengembangan media audio-visual. Salah satu karakteristinya adalah: visual lebih dipentingkan dari audionya. Dengan kata lain, pada pengembangan program audio-visual, hal-hal yang berupa visualisasi dari gagasan atau ide diharapkan dapat lebih memegang peran di dalam penyampaian pesannya. Berdasarkan penelitian mengenai kemampuan mengingat yang dilakukan oleh perusahaan Sovocom Company di Amerika disimpulkan sebagai berikut:

-         Verbal (tulisan) 20%-         Audio saja 10%-         Visual saja 20%-         Audio Visual 50%

Di dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menyampaikan pesan secara verbal kepada lawan bicara kita. Bahkan sering kali kita berasumsi bahwa komunikasi verbal adalah lebih efisien daripada cara lain. Padahal dalam kehidupan sehari-hari pun sering kita jumpai hal-hal praktis berupa penyampaian lambang-lambang visual bukan tulisan yang merupakan lambang visual seperti: tanda larangan lalu lintas, kamar kecil untuk pria/wanita, petunjuk-petunjuk arah, dan sebagainya. Dengan menggunakan lambang-lambang visual, maka orang yang tidak bisa membaca pun akan dapat mengerti pesan yang dikirimkan.

5.      Media Tiga Dimensi

Secara garis besar media tiga dimensi terbagi menjadi dua golongan yaitu

(1)  benda-benda sebenarnya (benda asli),

(2)  benda-benda pengganti (tiruan). Dari kedua golongan media ini ada yang bisa dibawa ke kelas dan ada yag tidak dapat dibawa ke kelas.a.

Pengalaman melalui benda sebenarnya Benda-benda sebenarnya yakni benda-benda riil yang dipakai manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Golongan ini merupakan golongan utama; pengalaman-pengalaman yang diperoleh adalah pengalam angsung dan nyata. Menggunakan benda-benda nyata atau makhluk hidup dalam pengajaran sering kali paling baik, dalam menampilkan benda-benda nyata tentang ukuran, suara, gerak-gerik, permukaan, bobot badan, bau serta manfaatnya. Benda-benda nyata itu banyak macamnya, mulai dari manusia, benda atau makhluk hidup seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, juga termasuk benda-benda mati seperti batuan, air, tanah dan lain-lain.

1) Pengajaran di KelasDalam mempergunakan benda-benda nyata untuk tujuan pengajaran di kelas, guru hendaknya mempertimbangkan hal-hal berikut :

(a)   benda-benda atau makhluk hidup apakah yang mugkin dimanfaatkan di kelas secara efisien, (b)   bagaimana caranya agar semua benda itu bersesuaian sekali terhadap pola belajar siswa,
(c)   dari mana sumbernya untuk memperoleh benda-benda itu. Benda-benda itu tentunya yang berukuran kecil atau tidak terlalu besar dan relatif mudah didapatkan dari lingkungan sekitar kelas (terjangkau), yang terpenting dalam hal ini adalah agar apa yang menjadi tujuan yang telah direncanakan akan dapat tercapai.

2) Pengajaran di Luar KelasApabila ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit dari sekedar apa yang telah diberikan di kelas dan memang tidak memungkinkan terjadi di kelas, maka dapat diperoleh pengalaman-pengalaman langsung dan yang riil dengan jalan kunjungan-kunjungan khusus ke tempat-tempat tertentu, baik di lingkungan (fasilitas) sekolah maupun lingkungan yang jauh sebagai metode karyawisata (study tour) misalnya: jika ingin mempelajari lingkungan masyarakat seperti proses sosial, ekonomi, budaya, kependudukan dll dengan menggunakan metode survey untuk bidang studi ilmu sosial dan kemasyarakatan seperti ekonomi, sejarah, sosiologi, kependudukan dan antropologi; dengan kemping untuk menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dll, untuk untk bidang ilmu pengetahuan alam seperti ekologi, biologi, fisika, dan kimia. Obyek wisata harus relevan dengan bahan pengajaran misalnya museum untuk pelajarn sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, teropong bintang untuk astronomi dan fisika, BATAN untuk teknik nuklir, pabrik kimia farma untuk teknik kimia dan farmasi, dll.Benda-benda sebenarnya tidak dengan sendirinya berfungsi sebagai media komunikasi, namun adakalanya perlu dikomunikasikan oleh orang atau nara sumber yang dapat mengkomunikasikan benda tersebut.b. Pengalaman melalui Benda Pengganti (Tiruan)Tidak seorangpun dapat memiliki segala kesempatan untuk emngalami segala sesuatu di dunia untuk akhirnya memiliki pengetahua yang lengkap. Setiap orang hidup terbatas, dengan kemampuan yang terbatas untuk menghayati arti dari segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Untuk melengkapi pengetehuan seorang siswa agar dengan pengetahuan itu dapat menghadapi tuntutan hidupnya, terpaksalah dipergunakan benda-benda pengganti. Penggunaan benda pengganti ini adakalanya dipandang memang lebih praktis dan efektif daripada benda aslinya, misalnya bagaimana bentuk bakteri yang ukurannya terlalu kecil, bagaimana bumi mengitari matahari yang ukurannya terlalu besar, bagaimana susunan tubuh manusia bagian dalam seperti jantung, hati usus, dll, bagaimana susunan jaringan reaktor nuklir, dll. Atau adakalanya kalau kita berhadapan benda aslinya sakalipun, kita toh tidak dapat mempelajarinya. Seperti contoh kalau kita dapat mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan dimuka sebuah generator, kita tidak akan banyak mendapat pengertian tentang bagaimana generator itu bekerja karena mesin itu tertutup kalau sedang bekerja. Untuk itulah perlu benda pengganti atau tiruan yang meliputi: model, barang contoh/specimen, tiruan sederhana (mock-ups), diorama, bak pasir, dll. Supaya alat-alat visual tiga dimensi baik itu benda asli maupun benda pengganti menjadi alat peraga yang efektif, ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan yaitu:-         Alat-alat visual tiga dimensi harus dapat dilihat oleh semua yang sedang belajar secara bersama-sama,-         Beri kesempatan bagi mereka yag belajar untuk memeriksa alat-alat tiga dimensi yang digunakan,-         Gunakan alat peraga tambahan, seperti gambar dua dimensi, diagram, bagan, atau alat-alat audio-visual lainnya,-         Perlihatkan alat-alat visual tiga dimensi itu sewaktu diperlukan saja.  Diambil dari : http://www.blogger.com/feeds/2754832685471863545/posts/defaultOleh: Purwiro Harjati

Profesionalisme guru, tentu harus terkait dan dibangun melelui penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaannya sebagai guru. Kompetensi-kompetensi penting jabatan guru tersebut adalah : Kompotensi profesional, yaitu kompetensi pada bidang substansi atau bidang studi, kompetensi bidang pembelajaran, metode pembelajaran, sistem penilaian, pendidikan nilai dan bimbingan. Kompetensi sosial, yaitu kompetensi pada bidang hubungan dan pelayanan, pengabdian masyarakat. Kompetensi personal, yaitu kompetensi nilai yang dibangun melalui perilaku yang dilakukan guru, memiliki pribadi dan penampilan yang menarik, mengesankan serta guru yang gaul dan “funky” sehingga menjadi dambaan setiap orang, sosok guru yang menjadi tauladan bagi siswa dan panutan masyarakat. Penilaia terhadap profesi guru tidak hanya sekedar pada aspek kualitas, administrasi dan manajemen saja, tetapi masalah guru lebih luas dan kompleks, menyangkut kemampuan profesional, personal, sosial termasuk perilaku dan kurangnya penghargaan yang layak terhadap profesi guru. Penilaian harus dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan dan kompetensi pada bidang kependidikan.

Mendesain pembelajaran

UTU pendidikan di Indonesia masih sangat jauh dari harapan. Beragam permasalahan muncul dari berbagai sisi. Keadaan laboratorium yang belum lengkap, lingkungan sekolah yang tidak memadai, waktu dan cara belajar siswa yag tidak tepat, serta cara penyampaian materi oleh guru kurang sesuai, merupakan faktor yang menyebabkan prestasi biologi siswa SMA masih rendah.

Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan sudah dan terus ditingkatkan, baik pembenahan kurikulum maupun kualitas tenaga pengajarnya. Peningkatan dan perbaikan fisik sekolah tidak akan berarti banyak apabila tenaga pengajar atau guru tidak dilibatkan dalam upaya ini. Guru dituntut untuk lebih aktif pada pemilihan materi, media dan juga metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Sesuai karakteristik dan tujuan mempelajari biologi tidak hanya menghafal terminologi dan konsep. Bukan menghafal langkah metode ilmiah, melainkan melakukan kegiatan proses belajar yang mampu memecahkan suatu persoalan.
Keberadaan fisik benda atau objek belajar biologi menjadi sangat vital dalam pembelajaran biologi. Ketiadaan objek benda yang ditemui secara langsung menuntut guru menggantinya dengan media lain yang sesuai. Media gambar/film/foto adalah sedikit contoh guru dalam mensiasati ketiadaan objek belajar yang konkrit. Media yang disediakan seringkali kurang pas dan kurang komunikatif sehingga siswa belum terpuaskan pengalaman belajarnya. Untuk itu perlu ada desain media interaktif yang membuat siswa ikut berpartisipasi da;am pembelajaran biologi.

Mengapa perlu desain
media interaktif
Proses belajar mengajar (PBM) akan menjalin proses komunikasi antara guru sebagai sumber pesan dengan siswa sebagai penerima pesan. Komunikasi akan lebih efektif apabila pengalaman pemberi pesan dan penerima pesan menjadi sama. Jika ini terjadi maka akan ada interaksi timbal balik antara guru dan siswa. Untuk itu perlu media belajar yang mempunyai kemampuan atau potensi yang dapat dimanfaatkan.
Ada beberapa kemampuan dan potensi media yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan peningkatan perbaikan PBM. Antara lain, membuat konsep abstrak menjadi konkrit; menampilkan objek berbahaya atau langka ke dalam situasi belajar; menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang; memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat untuk di amati; mempersingkat perkembangan yang memakan waktu; memberikan keseragaman persepsi; memberi kesan perhatian individu dll.
Media yang efektif adalah media yang mampu mengkomunikasikan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pemberi pesan kepada penerima pesan. Oleh karenanya dalam merancang PBM hendaknya memilih dan merancang pula media yang akan digunakan. Akan lebih menarik bila media bersifat interaktif sehingga siswa tidak hanya sebagai pendengar atau penonton, tetapi juga aktif terlibat.
Pemilihan jenis media perlu memperhatikan kejelasan dan tujuan serta keakraban penggunaan media bagi penggunanya. Aspek pertama berkaitan antara kemampuan yang ingin diperoleh siswa dengan kemampuan jenis media yang ada. Sementara aspek keakraban penggunaan media bagi penggunanya menekankan pengenalan sifat dan ciri media yang dipilih. Pengetahuan dalam pengenalan dan penggunaan suatu media perlu dipunyai oleh guru.
Guru dituntut untuk tidak gagap teknologi dan mampu menggunakan teknologi untuk mentransfer ilmunya. Kolabo-rasi guru biologi dengan teman sejawat guru lain yang berkompeten dalam teknologi informasi perlu diintensifkan.
Untuk itu dalam mendesain media perlu memperhatikan beberapa hal seperti, apakah materi itu penting dan berguna bagi siswa?; apakah dapat menarik minat siswa untuk belajar?; apakah ada keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan tujuan yang hendak dicapai?. Kemudian apakah materi yang disajikan otentik dan mutakhir?; apakah isi dan presentasinya memenuhi standar? Dan apakah struktur materinya urut dan logis?.
Memperhatikan dengan cermat beberapa hal terkait desain media di atas maka perlu persiapan dalam mendesain melalui langkah-langkah sebagai berikut, pertama menentukan dulu pesan yang akan disampaikan. Pesan yang disampaikan tentu harus sesuai dengan maksud dan tujuan instruksional, artinya pesan yang ada bukan sekedar informasi basi, mati dan atau  sekedar hiburan.
Kedua, menetapkan dan merancang media sebagai alat bantu mengajar (sebagai alat peraga). Media yang dibuat atau disajikan bukanlah mengganti peran dan fungsi guru akan tetapi sebaliknya digunakan dalam membantu kekurangan guru. Media tersebut justru menempatkan peran dan fungsi guru sebagai fasilitator.
Ketiga, menentukan media yang mendorong kegiatan belajar yang efektif. Penggunaan media komputer dengan segala fasilitasnya untuk masa sekarang menjadikan pembelajaran berlangsung secara cepat, tepat dan berguna. Berbagai fasilitas soft ware dapat dimanfaatkan untuk mendukung alat bantu pembelajaran seperti power point, program flash dan sebagainya. Keberadaan program ini membantu guru dalam menjelaskan materi-materi secara lebih jelas dan mengena.
Keempat, menentukan media yang sesuai dengan strategi yang dipilih. Setiap strategi memiliki kelebihan dan kekurangan ma-sing-masing. Media pembelajaran sebagai alat bantu akan menutup kekurangan strategi yang tepat.
Keberhasilan suatu PBM sering kali diukur dengan nilai yang diraih di akhir kegiatan. Penggunanan media seringkali dipaksakan dan diada-adakan. Namun perlu diingat bahwa pemilihan dan penggunaan media yang kurang baik justru mengganggu dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian perlu pertimbangan secara cermat dalam merancang, memilih dan menggunakan media yang ada. Jangan sampai untuk mengejar PBM yang menarik justru hasil yang didapat tid